All for Joomla All for Webmasters

Cegah Sundep Sebelum Porak-Poranda

Comment are off

Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker, 1863) adalah ngengat yang termasuk dalam suku crambidae. Larva hewan ini menjadi hama penting dalam budidaya padi. Gejala yang ditemukan sebelum padi berbunga disebut sebagai sundep dan gejala serangan yang dilakukan setelah malai keluar dikenal sebagai beluk” atau “kaper”. Ia ditemukan di Asia tropika, seperti di Indonesia, Pakistan, Filipina, maupun Australia tropika (di bagian utara).

Dalam dunia pertanian, serangga bernama “penggerek” batang padi atau nama lain dalam beberapa daerah. Bisa saja terjadi dari tahap persemaian hingga masa perkembangan. Dalam beberapa kasus didapati lebih dari satu jenis serangga ini yang menyerang padi. Proses penyerangan serangga ini terjadi  bergantian, mengakibatkan kesulitan melakukan pencegahan oleh sebagian petani.

Hama ini menyerang hampir sepanjang tahun di hampir seluruh wilayah indonesia, dengan berbagai populasi padi. Pada tahun 1998 serangan mencapai angka 20,5% dengan luas daerah mencapai 151.577 ha. Berkutang derastis pendapatan yang diakibatkan serangan hama pada tanaman pada fase vegetatif tidak terlalu besar karena tanaman masih dapat melakukan pembaharuan dengan pembentukan anakan baru.

Simulasi saat memasuki fase vegetatif, tanaman dapat melakukan pembaharuan akibat kerusakan dari serangan hama hingga 30%. Tanda-tanda serangan hama  penggerek pada  saat memasuki fase generatif ditandai  dengan munculnya bercak putih dan hampa yang biasa petani menyebutnya dengan beluk. Kerugian hasil yang  terjadi karena serangan hama ini berkisar 1-3%. Kerugian besar terjadi apabila penerbangan ngengat bersamaan dengan tanaman padi yang memasuki masa “bunting”.

Ulat dari hama pengerek ini, ulatnya hidup dalam batang padi. Pada fase  selanjutnya penggerek akan berubah menjadi ngengat yang berwarna coklat ataupun kuning. Kasus yang sering terjadi yaitu dalam 1 anakan terdapat 1 larva. Serangga ini aktif pada malam hari (nocturnal). Larva betina biasanya akan menghasilkan 3 massa telur antara 7-10 hari pada fase kehidupan serangga dewasa. Masa telur serangga penggerek berbentuk cakram tertutup oleh bulu-bulu berwarna coklat terang dari jenis kelamin betina. Pada setiap masa telur terdapat sekitar 100 telur.

Dengan mengidentifikasi gejala-gejala serangan ini, waktu serangan, dan jenis serangga yang menyerang, akan lebih mudah untuk mengambil langkah penanganan cukup mudah. Pengendalian bisa menggunakan beberapa gabungan teknik pengendalian yang saling berhubungan.

Untuk dapat menekan populasi hama tersebut, dengan langkah pengelolaan tanaman, lingkungan sekitar, dan musuh alami. Jika langkah-langkah tersebut dilakukan dengan benar akan dapat memaksimalkan penekanan populasi hama tersebut, secara otomatis akan menyelamatkan padi milik kita.

Berikut beberapa point penting dalam usaha penekanan populasi hama penggerek :

  1. Kultur Praktis
  • Varietas

Walaupun belum ada  jenis / varietas yang tahan pada serangan serangga ini. Namun ada beberapa tanaman yang memiliki sifat cenderung kurang disukai oleh serangga penggerek, menjadikan prosentase serangan pada varietas ini menjadi kecil.

Varietas yang berkarakter semi-kerdil adalah salah satu varietas yang kurang disukai serangga ini. Varietas ini memiliki batang yang pendek, lapisan lignin tebal yang terdapat pada  jaringan batang serta pelepah daun, dengan besarnya sel silika yang dimiliki.

Selain varietas yang kurang disukai serangga penggerek, varietas yang memiliki keunggulan dapat bereproduksi anakan lebih banyak merupakan alternatif penanganan pada serangan penggerek.

  • Waktu Tanam

Tepat dalam waktu penanaman merupakan  langkah untuk meminimalisir serangan hama ini. Karena pada waktu-waktu tertentu penerbangan serangga ini sangat banyak, maka pada waktu lainnya penerbangan serangga ini akan jauh lebih sedikit. Dalam setahun daerah yang memiliki iklim tropis dapat melakukan proses penanaman sebanyak 2-3 kali dalam setahun. Langkah terbaik adalah dengan mengamati penerbangan sundep sebelum melakukan proses tanam. Langkah terbaik dalam proses semai ialah 5-10 hari setelah terjadi puncak penerbangan serangga ini.

Jika tak dapat mengamati proses punccak penerbangan tersebut. Kita dapat mengikuti kalender tanam (pranata mangsa) yang telah ada. Karena kalender tersebut memiliki acuan setelah puncak penerbangan serangga ini.

  • Rotasi

Pada daerah yang beriklim tropis yang terdapat dua musim, memiliki pola umum yang terjadi pada akhir tahun masuk pada masa tanam bere ataupun palawija. Untuk menghindari serangan ini bisa dilakukan rotasi pada tanaman. Dengan menanam secara bergantian komoditas selain padi, berguna sebagai pemutus siklus hidup serangga  ini. Contoh sebagai berikut : (padi,palawija,palawija) atau (padi,palawija,bera).

Langkah  ini  dapat diaplikasikan pada lahan yang menggunakan sistem setengah teknik atupun lahan yang menggunakan sistem tdah hujan. Dan untuk lahan yang memiliki sistem irigasi sebaiknya menggunakan sistem rotasi berkala.

  • Tanah dan Penggenangan

Langkah dalam pengolahan tanah yang tepat dengan merubah lapisan tanah hingga sisa tanaman terpendam, dan digenangi air selama beberapa hari agar larva yang tertinggal yang ada di dalam batang mati dan telur akan gagal untuk menjadi ngengat.

  • Lahan

Sanitasi lahan merupakan hal yang penting untuk proses pembersihan lahan tanam dari serangan sundep/beluk dengan prosentase sedang hingga berat. Langkah yang dilakukan yaitu pemotongan sisa  tanaman hingga pangkal dari batang pohon tersebut, agar pupa yang tertinggal ataupun bertempat tinggal dipangkal batang akan mati.

  1. Pengendalian Mekanik
  • Pemungutan Telur

Tahapan pegendalian kali ini merupakan proses pengambilan telur di persemaian. Langkah ini cukupefektif untuk mencegah sundep yang sedang atau baru pindah (transplantasi).

Keuntungan menggunakan langkah ini sebagai berikut :

  1. Mudah dilakukan untuk lahan semai yang memiliki ukuran terbilang sempit, sebelum tanaman dipindahkan di lahan tanam.
  2. Langkah ini efektif untuk pembersihan pada telur larva yang berjumlah sekitar 200 telur.
  3. Proses pemindahan dari lahan semai ke lahan tanam mengakibatkan tanaman kembali untuk beradaptasi, sehingga mudah diserang oleh larva.
  • Perangkap

Lampu merupakan salah satu perangkap yang sering digunakan untuk ngengat, mengingat serangga ini memiliki ketertarikan terhadap cahaya. Dan siapkan bak  berisi air agar ngengat yang terjatuh diarea lampu akan masuk ke dalam bak yang berisi air. Manfaat lain dari lampu ini adalah untuk menjadi pusat perhatian serangga-serangga lain yang terdapat di area lahan tersebut.

Langkah ini terbilang efektif untuk membaca siklus hama serangga yang menyerang lahan pertanian. Dianjurkan memilih lampu yang berwarna violet untuk lebih menarik serangga  yang adadisekitar area lahan.

  1. Pengendalian Biologi

Langkah ini merupakan pengendalian dengan musuh alami serangga: tersebut antara lain : parasitoid, virus patogenik, dan predator. Pemanfaatan predator dapat menggunakan jangkrik, kelelawar, ataupun laba-laba

Tumbuhan yang berjenis (trichogoramma sp) dapat digunakan sebagai musuh serangga ini. Fungsi dari tumbuhan ini akan menjadi parasit telur serangga penggerek.  Cendawa bisa dimanfaatkan untuk membersihkan serangga tersebut, memiliki virus dan jamur entomopatogenik yang menjadikan tubuh serangga sebagai inang untuk berkembang.

Pengendalian biologis ini cukup banyak digunakan dalam pertanian organik dikarenakan proses penakanan pada serangga cukup kuat, dan tidak berakibat buruk pada tanaman, dan tidak mengganggu ekosistem lingkungan. Langkah ini dapat menggunakan tanaman matahari pada sekitar lahan untuk mencegah serangga.

  1. Pengendalian Kimia & Pupuk Hantu

a. Jenis

Pestisida merupakan keseluruhan bahan yang dapat mematikan (cide) pengganggu (pest). Jenis yang sering digunakan sebagai pengendalian serngga yang menyerang batang padi ialah Insektisida. Jenis insektisida untuk pengendalian ini  antara lain : butiran, cair, ataupun tepung.

b. Sasaran

fase yang dapat dikendalikan dengan insektisida ialah jika penggerek baru memasuki fase larva dan nganget.Penggunaan insektidsida yang memiliki cara sistemikdengan translokasi ke seluruh jaringan. Untuk padi yang masih tergolong muda, atau jika larva yang menyerang baru memasuki fase awal menetas dari kelompok telur.

c. Waktu

Waktu yang tepat untuk proses pembasmian adalah ketika larva baru menetas dari kelompok telurnya. Pengamatan berkala harus dilakukan untuk mengetahui perkembangan larva. Untuk langkah tepat dalam proses pengaplikasian dengan cara membawa kelompok telur larva yang ditemukan di area lahan untuk mengamati proses penetasannya. Untuk aplikasi insek semprot, paling bagus jika dilakukan pada pagi hari, karena saat-saat tersebut  adalah waktu terbukanya mulut daun, sehingga insek dapat diserap sempurna.

d. Dosis

Campurkan insek dosis rekomendasi pabrikan dengan POC IJO ROYO-ROYO (6 tutup botol, ZPT HANTU RATU BIOGEN (4 tutup botol), dan NPK JAGO TANI (4 tutup botol) untuk satu tangki penyemprotan / 15 liter air.

e. Aplikasi

Semrotkan cairan tersebut pada tumbuhan padi secara merata. Penyemprotan paling efektif pada pagi hari  agar diserap dengan maksimal. Untuk rekomendasi aplikasi jika tanaman sudah mulai terserang tanda-tanda sundep, sebaiknya penyemprotan 3 hari sekali.

Rangkuman diatas adalah sedikit  tips dari kami, semoga dapat membantu Anda untuk menangani salah satu hama yang menjadi momok para petani. Terus berusaha dan konsisten untuk mendapat hasil terbaik.

About the Author